[GD’s Birthday Project] [FanFic] IF YOU

Title : If You

Author : hbyung88 (contact person IG : @ckyhy_elf / Line : ditaelf

Genre : Romance, Sad

Cast :

  • Kwon Jiyoung aka G-Dragon
  • Park Hyobyung (OC)

Desclaimer : 100% handmade (?) ORI dari otak sendiri. Semua yang ada di ff ini murni karangan author jadi jangan dicari kebenaran nya karena sudah pasti nggak akan nemu di sosmed atau blog manapun 😂. Copas ? Repost ? You die 🔫Annyeong ^0^ welcome to my FF 😊. Akhirnya setelah berperang dengan waktu dan tugas FF ini kelar juga 😇  Awalnya author ga nyangka bakal kelar nih FF berhubung banyak tugas. Awalnya author pesimis banget nih FF bakal jadi sesuai deadline. Tapi akhirnya kelar juga 😂. Baiklah daripada kelamaan karena author nyampah mulu langsung CEKIDOTT hayuuuk. Hope you like it, dan terima kasih untuk semua pihak yang sudah mendukung saya 😘

Typo gentayangan ~~

Dia pergi. Dan aku tak dapat berbuat apa-apa. Seperti orang bodoh, aku berdiri dengan hampanya disini. Aku seharusnya memperlakukanmu lebih baik ketika aku memilikimu. Jika tidak terlambat bisakah kita kembali bersama-sama ? – If You

Dering ponsel membangunkan seorang gadis cantik yang tengah tertidur lelap di meja makan apartementnya. Wajahnya terlihat sembap dan kantung matanya terlihat menebal. Ia masih enggan membuka matanya. Lebih tepatnya enggan menghadapi kenyataan yang menghadapinya. Namun, dering ponselnya terus berbunyi, membuatnya mau tidak mau harus bangun dan mengangkat panggilan masuk dari ponselnya itu. Menegakkan badannya yang terasa kaku karena semalaman tidur dimeja makan dengan posisi yang sama, duduk membungkuk dan meletakkan kepalanya diatas kedua tanggan nya yang ia lipat diatas meja. Mengerjapkan matanya berulang kali. Mencoba membiasakan matanya dengan cahaya yang menerangi ruangan ini. Namun kemudian, sinar matanya berubah menjadi sendu, terselip rasa sedih dan kekecewaan yang besar didalamnya. Kenyataan yang  terlihat semakin jelas didepan matanya, membuat ia hanya bisa tersenyum pahit. Berbagai macam makanan dan kue tart berukuran sedang dengan lilin yang telah mati tersusun rapih di atas meja makan ruangan ini. Ia yang telah berkerja keras membuat semua ini menjadi nyata. Demi membuat sebuah makan malam romantis bersama kekasihnya. Semuanya telah ia susun dengan sempurna. Makan malam dengan susasana penuh cinta ketika jarum jam mendekati pukul 12 malam. Lalu ketika jarum jam telah berada di angka 12 pas ia akan mulai mengucapkan berbagai kata romantis untuk kekasihnya, berterimakasih karena selama 3 tahun ini telah menemani hari-harinya, dan berakhir dengan sebuah pesta kecil dengan kue tart yang telah ia siapkan. Ya, hari ini adalah ulang tahun kekasihnya bersamaan dengan hari jadi mereka yang ke-3 dan tadi malam ia berencana memberikan sebuah surprise kecil untuk kekasihnya. Namun impiannya hancur seketika ketika hingga pukul 12 malam kekasihnya tak kunjung datang ke Apartemennya. Alhasil, ia merayakan pestanya seorang diri. Ia mengakhiri pesta -seorang dirinya dengan membuat permohonan didepan sebuah kue tart yang telah ia siapkan. Ia menyatukan kedua tanggannya sambil memejamkan mata, menggumamkan permohonannya pada Tuhan. Harapannya hanya satu ‘Semoga Tuhan mendengar dan mengabulkan doanya’ lalu ia meniup lilin yang ada diatas kue tart itu hingga mati. Matanya masih terpaku pada lilin-lilin yang sudah mati itu. Pandangannya menerawang, mengingat apa yang terjadi padanya selama sehari ini. Hingga tanpa ia perintah, air matanya mulai menetes membasahi jari jemarinya yang saling bertaut diatas pangkuannya. Ia makin terisak ketika menyadari sudut hatinya terasa nyeri. Air matanya sudah tidak terbendung lagi. Ia menahan tangisnya yang seakan ingin meledak hingga bahunya berguncang. Gadis itu -Park Hyobyung, menangis seorang diri ditengah kegelapan malam.

Sejenak ia terlupa pada panggilan dari ponselnya. Pandangannya terus menerawang akan apa yang terjadi kemarin malam. Hingga tiba-tiba ia terbangun dari lamunannya, membuang jauh-jauh apa yang ia fikirkan dan meraih ponsel yang bahkan sejak tadi tidak ia hiraukan

“Yeoboseyo ?” Tanpa melihat siapa yang menelponnya Hyobyung menggeser tombol angkat pada layar ponselnya

“Hyo-ya, kau dimana ? Kenapa belum datang?”

“Oh Hyura-ya, aku masih dirumah. Emm, sepertinya aku tidak akan masuk kerja. Aku tidak enak badan. Tolong katakan pada PD Nam aku tidak masuk ya” Jelasnya. Ia tidak berbohong, jujur saja badannya terasa remuk terlebih hatinya. Ia hanya tidak ingin bekerja dengan kondisi seperti ini, ia yakin Hyura akan membombardirnya dengan banyak pertanyaan, dan ia juga tidak yakin bisa bekerja dengan baik sedangkan pikirannya melayang kemana-mana yang ada nanti malah ia mendapat masalah baru karena tidak konsentrasi.

“Kenapa ? Kau sakit ?” Tanya Hyura khawatir

“Emm, ya kurasa. Aku kelelahan”

“Ahh, baiklah. Apa perlu kutemani ke dokter ?”

“Tidak perlu, aku baik-baik saja. Hanya perlu istirahat dan minum obat”

“Benar tidak apa-apa ?” Hyura bertanya masih dengan nada khawatirnya

“Ne, Gwenchana” Balas Hyobyung seraya tersenyum, meskipun ia tahu Hyura tidak akan bisa melihat senyumnya ini 

“Hhhh, baiklah. Jangan lupa istirahat dan minum obat Ok? Nanti aku katakan pada PD Nam. Aku akan kerumah mu sepulang dari kantor nanti”

“Hmm. Gomawoyo Hyura-ya”

Tut~~ 

Setelah memutuskan sambungan telepon, Hyobyung menyandarkan punggungnya dengan lesu ke sandaran kursi. Ia kembali menatap nanar meja makannya. Kecewa dan sedih, hanya dua kata itu yang dapat menggambarkan kondisi hatinya saat ini. Kemudian ia menggeleng kecil berulangkali, membuang segala pikiran buruk nya dan mencoba untuk ber-possitive thinking kepada kekasihnya itu

‘Mungkin dia sangat sibuk sampai tidak sempat mengabariku’ Tegasnya dalam hati. Ia mencoba mempercayai statement yang ia buat sendiri meskipun kenyataanya sangat bertolak belakang dengan apa yang ada di lubuk hatinya. Tanpa menunggu lebih lamal lagi, ia segera meraih ponselnya. Mendial sebuah nomor hingga terdengar nada sambung. Lama ia nenunggu namun tak ada jawaban dari kekasihnya itu. Hingga kemudian terdengar suara yang benar-benar terdengar menyebalkan ditelinganya. Suara seorang wanita operator telefon. Sial. Sepertinya kekasihnya itu benar-benar sibuk. Akhirnya ia pun memilih untuk meninggalkan sebuah pesan suara untuk kekasihnya

“Ini aku. Kau sangat sibuk ya ? Sampai menghubungimu saja sangat susah. Serasa seperti aku ini sedang di bulan dan kau dibumi. Kenapa tidak datang ? Kau tahu betapa sedihnya aku ? Setelah siang kemarin kau bahkan dengan jelas mengatakan padaku kalau kau bisa datang lalu tiba-tiba kau menghilang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Aku sudah membuatkan banyak makanan dan kue tart untukmu namun sepertinya semuanya akan berakhir ditempat sampah. Ini benar-benar tidak adil.” Hyobyung merajuk seperti anak kecil dalam pesan suaranya. 

“Kenapa seperti ini ?” Ucapnya lirih, tiba-tiba nada suaranya berubah drastis. Tanpa sadar, air matanya kembali menggenangi pelupuk matanya. Ia terisak pelan. Namun itu tidak berlangsung lama. Ia segera menghapus air matanya dan tertawa hambar

“Hahahaha, aku bercanda. Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk uri Young-ie. Semoga yang kau inginkan dapat terkabul. Selalu diberikan kesehatan oleh Tuhan. Ah ya dan satu lagi. Happy 3rd aniversarry dear. Terimakasih karena telah menemaniku selama 3 tahun ini. Aku bahagia bisa memiliki mu. I Love You. Jangan lupa telefon aku”

Pip~~

Hyobyung mengakhiri pesan suara nya. Menghela nafasnya sambil menyandarkan punggungnya. Kemudian ia menatap makanan itu kembali

‘Ini harus segera dibereskan’ Ucapnya dalam hati. Kemudian ia bangkit dari duduknya. Mengikat rambutnya asal, lalu mulai membereskan semua makanan yang ada dimejanya. Membawanya satu-satu dikedua tangannya, dan membawanya ke dapur untuk segera dibuang ke tempat sampah. Setiap makanan yang ia buang, ia selalu menghela nafas berat. Entahlah, hatinya masih terasa sakit dan lelah akan semua ini

Nama gadis itu Park Hyobyung, lahir di Seoul, 25 Januari 25 tahun lalu. Ia adalah seorang reporter disalah satu stasiun televisi ternama di Korea. Berasal dari keluarga sederhana dan ia adalah anak tunggal. Sejak kecil ia sudah di didik untuk disiplin dalam berhemat dan pandai-pandai dalam memanfaatkan uang. Maka tidak heran ketika umurnya baru menginjak 18 tahun ia sudah bisa menghidupi dirinya sendiri termasuk membayar biaya kuliahnya di salah satu universitas ternama Korea. Orang tuanya meninggal ketika usianya baru menginjak 10 tahun dalam sebuah kecelakaan mobil. Hanya ia yang selamat dalam tragedi itu sementara kedua orangtuanya tewas ditempat kejadian. Selama 8 tahun ia hidup bersama paman dan bibinya. Hingga suatu hari ketika ia merasa sudah terlalu banyak merepotkan bibinya dan ia juga merasa sudah bisa menghidupi dirinya sendiri, ia memutuskan untuk tinggal sendiri disebuah apartement sederhana yang ia beli dengan kredit

“Bibi, Paman, terima kasih karena telah merawatku selama ini. Maaf karena telah banyak merepotkan kalian. Dan maaf karena aku tidak bisa memberi apa-apa pada kalian. Tapi aku janji suatu saat aku akan membanggakan kalian juga ayah dan ibu” Ucap Hyobyung sungguh-sungguh

“Kau benar tidak apa-apa tinggal sendiri ? Kami sama sekali tidak merasa keberatan kau tinggal disini. Kau sudah kami anggap sebagai anak kami sendiri Hyo-ya, kau tidak perlu merasa sungkan pada kami” Ucap bibinya mencoba meyakinkan Hyobyung

“Tidak bi, kurasa aku sudah cukup dewasa untuk hidup sendiri. Anggap saja ini sebagai pelatihan untuk ku belajar hidup mandiri. Karena aku tidak mungkin selamanya akan terus bergantung pada bibi, kan ? Suatu saat aku juga akan berpisah dengan bibi dan menjalani hidup ku sendiri. Dari pada ketika hari itu tiba aku malah sedih dan tidak tahu harus berbuat  apa, lebih baik mulai sekarang aku berlatih agar ketika hari itu tiba aku sudah siap dan aku hanya tinggal melanjutkan apa yang sudah kumulai dulu. Setidaknya aku tidak perlu pusing mencari pekerjaan dan tempat tinggal. Toh apartementnya tidak terlalu jauh dari sini, jika bibi merasa kesepian bibi bisa kerumah atau telefon aku, aku akan datang kesini” Jelas Hyobyung panjang lebar sambil sedikit bergurau untuk mencairkan suasana kaku diantara mereka 

“Kau mendoakan paman dan bibimu ini cepat mati, ya ? Kau juga hanya akan kesini ketika bibi merindukanmu lalu menelfonmu ?” Bibi mencibir Hyobyung

“Aduuh bibi ini bicara apa. Tentu saja aku akan kesini jika aku ada waktu. Terserah bibi mau merindukanku atau tidak”

Hyobyung terus bergurau dengan bibi dan pamannya. Bibi terus memperhatikan wajahnya yang selalu mengeluarkan berbagai ekspresi berbeda, terkadang tersenyum, kesal karena terus-terusan digoda oleh pamannya, bahkan tertawa lepas. Semuanya ia rekam dan ia simpan dalam memori otaknya yang tersisa. Lalu ia teringat pada kejadian kecelakaan waktu itu. Hyobyung kecil yang menangis histeris melihat ayah dan ibunya. Serta sebuah pesan dari Oppa nya (ayah Hyobyung) yang menitipkan Hyobyung padanya. Bagaimana dulu ketika hari-hari setelah orangtuanya pergi ia bahkan hanya mengurung diri di kamar. Bagaimana anak yang dulu bahkan sangat ceria tiba-tiba kehilangan senyumnya. Tanpa sadar air mata telah mengalir di pipi sang bibi. Bagaimanapun kini Hyobyung sudah besar, ia sudah dewasa dan ia tidak perlu terlalu ikut campur dalam hidupnya. Ia bangga bisa membesarkan Hyobyung, setidaknya ia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu dan juga merawat seorang anak meskipun bukan dari rahimnya sendiri. Karena mungkin ia memang ditakdirkan untuk tidak bisa memiliki seorang anak. Bahkan ia merasa sudah terlalu tua walau hanya untuk sekedar mengadopsi anak.

“Bibi kenapa ?” Tanya Hyobyung khawatir melihat bibinya yang tiba-tiba menangis. 

‘Anak ini, dia terlalu cantik dan baik. Kasihan kalau dia harus menghadapi kerasnya dunia ini sendirian. Tapi apa boleh buat. Aku bahkan tidak bisa melarangnya.’

“Dasar keras kepala !” Bibi tiba-tiba memukul lengan Hyobyung. Membuat Hyobyung memekik

“Aww bibi ini apa-apa an sih ?” Kemudian bibinya itu hanya tertawa dan memeluk Hyobyung penuh kasih.

Bibi, aku berangkat ana uang saku ku ?” Tanya Hyobyung, ia bercanda, hanya ingin sekedar mencairkan suasana diantara mereka yang diliputi rasa sedih karena harus berpisah

“Kau ini benar-benar ya ?” Bibi hanya menatap nya tidak percaya

“Haha tidak aku bercanda. Paman aku berangkat dulu” Ia memeluk paman yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri itu setelah sebelumnya ia memeluk bibinya

“Ya, hati-hati. Hubungi kami jika kau membutuhkan bantuan. Terutama jika masalah keuangan”

“Arraseo. Baiklah aku berangkat dulu ne. Annyeong” Hyobyung melambaikan tangannya dan mulai keluar dari lingkungan rumah paman dan bibinya sambil menggeret koper besarnya. Ia berjalan menuju halte bus . Sebenarnya paman ingin mengantarnya hingga ke apartement barunya itu. Namun bukan Hyobyung namanya jika tidak keras kepala. Sebel ia benar-benar keluar dari lingkungan rumah bibinya, ia berbalik. Menatap pamam dan bibinya bergantian. Ia tahu, bibinya menahan mati-matian air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Menggoda bibinya untuk terakhir kali sebelum berpisah tidak apa-apa kan ? Tanya nya lebih kepada hatinya sendiri

“Bibi jangan menangis. Kita masih bisa sering ketemu kan ? Bibi ini seperti tidak akan bertemu lagi denganku saja” Hyobyung berkata sambil tersenyum lebar. Mencoba terlihat ceria. Padahal dalam hatinya ia juga sedih dan takut akan berpisah dengan bibinya. Sementara bibi yang ketahuan oleh keponakannya sendiri terlihat malu

“Kau ini . . . . Cepat pergi sana. Sebelum aku berubah pikiran dan menyeretmu kembali kerumah dan tidak akan mengijinkanmu tinggal sendirian sampai kapanpun !” Bibi menyahut dengan kesal, dan tanpa sengaja setetes air matanya mengalir begitu saja. Berat rasanya melepas “anak” nya ini pergi. 

“Hahaha, arraseo. Aku pergi” Hyobyung hanya tertawa ringan lalu kembali melanjutkan langkahnya. Sementara Bibi sudah menangis tersedu-sedu dipelukan Paman.

“Annyeong haseyo G-Dragon ssi. Saya reporter Park Hyobyung dari stasiun TV NHC. Semoga kita dapat berkerjasama degan baik” Ucap Hyobyung sambil menjabat tangan G-Dragon

“Ne, saya G-Dragon. Mohon kerjasamanya”

Tanpa disangka, G-Dragon menjabat tangan Hyobyung dengan ramah. Tidak seperti yang Hyobyung pikirkan selama ini “G-Dragon adalah artis tenar dengan sejuta kesombongan dam keangkuhannya” seperti yang ia lihat di TV. Namun perkiraannya salah, pria itu bahkan tersenyum ramah padanya

Itu adalah awal pertemuan mereka. Berawal dari sebuah wawancara eksklusif antara dia dan G-Dragon yang membahas project solo debutnya dalam album One Of A kind yang akan rilis beberapa minggu lagi. Ia berkenalan dengan pria itu. Hingga semakin lama, mereka semakin dekat dan timbul perasaan cinta diantara mereka. Awalnya Hyobyung sudah menganggap bahwa apa yang ia jalani bersama perasaanya pada pria itu sudah salah. Mereka berbeda. Sangat jauh berbeda dari segi apapun. Namun ia juga tak bisa membohongi perasaanya pada pria itu dan jujur ia juga ingin memiliki pria itu.

“Aku bukan pria romantis yang bisa mengucapkan berbagai kata romantis, kau tahu itu bukan ? Dan aku juga tidak memiliki banyak waktu untuk mengucapkan itu. Jadi langsung ke intinya saja. Aku menyukai mu, entah sejak kapan. Tiba-tiba saja aku sudah menganggapmu sebagai wanita. Jadi apa kau mau menjalani hubungan ini denganku ? Aku tidak menjanjikan ini akan mudah, tapi percayalah aku akan berusaha agar semua ini menjadi mudah untuk kita. Jadi ?” Jiyoung -G Dragon menumpahkan seluruh isi hatinya didepan wanita ini. Berharap jawaban “YA” yang ia dapat.

“Kau ?” Hyobyung hanya menganga tidak percaya, ia tidak menyangka selama ini perasaannya terbalas

“Ya, aku gila. Aku benar-benar sudah gila karena mu !” Jiyoung berkata pelan, ia menatap dalam manik mata Hyobyung

‘Ya Tuhan, pria ini benar-benar tulus mencintaiku !’Hyobyung berteriak dalam hatinya

Hyobyung hanya menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, tidak percaya. Hanya satu kata itu yang benar-benar menggambarkan isi hatinya

“Jadi bagaimana ?” Jiyoung kembali bertanya setelah beberapa saat Hyobyung hanya mematung menatapnya

“Ya, aku mau” Hyobyung menjawab dengan malu-malu. Sebenarnya daritadi pun hanya kata itu yang ingin ia teriakan namun ia hanya tidak ingin terlihat murahan didepan Jiyoung dengan langsung menerima cinta pria itu.

Jiyoung hanya tersenyum melihat wajah cantik wanitanya ini yang merona karenanya. Entah kenapa ia suka. Dan disitulah awal kisah cinta mereka yang melelahkan dimulai
                                                                                      —
Seoul 18 Agustus 2015 10:00 KST
“Hi bro ! Happy birthday !” Ucap Seungri bersama member BigBang yang lainnya yang baru sampai dan segera menyusul G-Dragon di Studio mereka
“Kau tidak pulang semalam ?” Tanya Taeyang yang menyadari Leader mereka berada distudio semalaman demi menggarap comeback mereka
“Tidak” Jawab Jiyoung dingin
“Bukankah hari ini adalah ulang tahun mu dan perayaan 3 tahun kalian ?” Kali ini Daesung
“Ya” Lagi-lagi ia hanya menjawab menjawab singkat dan dingin
“Lalu kenapa kau malah disini bukannya pulang dan merayakannya bersama Hyobyung ? Bukankah kemarin kau juga sudah janji padanya kalau kau akan pulang ? Aku tidak bisa membayangkan betapa sedih dan kecewa nya dia” Seungri menjawab dengantidak sabar
“Kau pikir aku yang menginginkan ini ? Aku juga ingin pulang dan merayakannya, setidaknya aku ingin menikmati walau hanya beberapa jam bersamanya. Tapi apa aku harus meninggalkan ini dan comeback kita diundur ? Kalian ingin begitu ?” Jawab Jiyoung dengan marah. Ia benar-benar kesal dan rasanya ingin menghancurkan studio ini. Semalam suntuk ia bahkan tidak tidur demi menyelesaikan ini semua. Ia hanya ingin ini cepat berakhir dan pulang untuk bertemu Hyobyung meskipun ia yakin tidak bisa berlama-lama dengan wanitanya. Ia tahu betapa sedih dan kecewa nya Hyobyung karena ia tidak pulang dan mengingkari janjinya. Bahkan ia sama sekali tidak menghubungi wanita itu. Ia hanya ingin berkonsentrasi pada projectnya ini agar semuanya segera berakhir. Tapi teman-temannya ini malah menambah berat beban pikirannya ini sehingga amarah yang sudah ia tahan sejak tadi meledak begitu saja
“Calm down. Calm down” Seunghyun -TOP mencoba menenangkan sahabatnya ini. Ia tahu betul bagaimana kerja keras sahabatnya ini demi comeback mereka dan demi Hyobyung juga.
“Kau sudah menghubunginya ?” Tanya Seunghyun dengan halus
“Belum” Jawab Jiyoung sambil menenangkan dirimya sendiri
“Tinggalkan ini sementara waktu dulu. Setidaknya hubungi dia. Atau kau mandi dulu dan sarapan, aku yakin sejak kemarin kau belum makan. Mana bisa ide mu muncul sedangkan kau sendiri tidak memiliki energi yang cukup untuk mengeluarkan ide itu. Kalau seperti ini mau sampai kapanpun kau tidak akan selesai” Seunghyun mencoba memberikan jalan keluar bagi sahabatnya ini. Ia tahu betapa kalutnya pikiran sahabatnya ini saat ini
“Hyung, jangan marah-marah seperti itu. Ini hari ulangtahun mu, seharusnya kau tersenyum ceria pada kami semua. Bukan wajah masam menyeramkan seperti itu” Deungri jembali bersuara, ia mencoba mencairkan suasana tegang diantara mereka. Namun yang ada dia malah mendapat bentakan dari semua hyung nya
“Diam kau !” Bentak Seunghyun, Taeyang, dan Daesung bersamaan. Sedangkan yang dibentak hanya mengerucutkan bibirnya sebal dan pergi dari ruangan itu
“Cepat hubungi dia. Kau tidak perlu khawatir. Kami akan melanjutkannya. Masih ada Teddy yang bisa membantu kami” Seunghyun kembali meyakinkan Jiyoung
“Iya atau lebih baik kau pulang saja” Taeyang juga ikut meyakinkan
“Baiklah. Aku percayakan ini pada kalian. Aku tidak akan lama-lama, aku berjanji”
“Santai saja. Hati-hati dijalan tidak usah terburu-buru. Kekasihmu tidak akan bunuh diri hanya karena kau tidak datang kemarin. Aku yakin dia bisa mwngerti keadaanmu” Daesung mengingatkan
“Ne arraseo”
Tanpa membuang waktu lagi, ia segera menuju mobilnya yang terletak dibasement dan segera melesat menuju rumah pribadinya. Dalam perjalanan ia baru menyadari kalau ia belum memberi kekasihnya itu hadiah. Ia teringat kalau wanita itu menyukai bunga krisan. Tanpa membuang waktu, ia segera mengambil jalur kanan dan berbelok disalah satu toko bunga terkenal di Seoul. Memakai perlengkapan yang umumnya ia gunakan ketika berada di lingkungan luar agar para fans tidak mengenalinya. 
“Permisis. Saya butuh bunga krisan” Ucap Jiyoung pada penjaga toko
“Bunga krisan warna apa ? Kebetulan kami memiliki beberapa koleksi bunga krisan. Anda boleh lihat-lihat terlebih dahulu” Jawab penjaga itu dengan ramah sambil berjalan menuju koleksi bunga krisan yang ia miliki
“Sayangnya saya tidak memiliki waktu untuk sekedar memilih dan melihat-lihat. Tolong bungkuskan saja, apapun terserah anda yang penting bunga krisan. Ah dan satu lagi. Tolong cepat” Ucap Jiyoung tidak sabaran. Nadanya terdengar sedikit memohon sambil terus melihat jam tangannya. Sementara penjaga toko itu melihatnya aneh sekaligus curiga seperti
‘Apa dia seorang artis ? Sepertinya benar. Lihat mobilnya saja super mewah ditambah ‘aksesoris’ penutup wajahnya terlihat mencurigakan. Seperti yang artis-artis lakukan pada umumnya jika mereka berada diluar rumah. Apa mungkin dia seorang penjahat buronan ? Tidak mungkin, kan ?’Penjaga toko itu terlalu lama mengamati wajah dan penampilan Jiyoung hingga ia terlupa akan tugasnya. Sementara Jiyoung hanya memendang heran dan sedikit tidak sabar pada penjaga yang terus memeperhatikannya bukannya mengambil dan membungkuskan bunga untuknya
“Chogi ?” Jiyoung melambai-lambaikan tangannya didepan wajah petugas itu hingga sang petugas terperanjat dan meminta maaf dengan canggung pada Jiyoung, lalu melesat mengambil bunga krisan pesanannya
.
.
“Sekali lagi saya mohon maaf atas ketidaknyamanan nya” Ucap penjaga itu tulus
“Tidak apa-apa tapi tolong lain kali jangan diulangi lagi tidak hanya denganku tapi dengan siapa saja” 
“Ne, algeseubnida. Kamsahabnida” Penjaga itu membungkuk untuk kesekian kalinya pada Jiyoung sebelum akhirnya Jiyoung keluar dari tokonya. 
.
.
Sesampainya dirumah jam sudah menunjukkan pukul 12:00 KST, sedangkan ia lupa membeli kado yang bahkan sangat penting. Akhirnya ia memutuskan untuk membersihkan badannya dulu yang terasa lengket dimana-mana. Hanya membutuhkan waktu 10 menit baginya untuk mandi. Benar-benar sulit dipercaya. Setelah mengganti pakaian nya dengan setelan kemeja berwarna hitam dan celana jeans denim. Sederhana namun terlihat berkelas dan pas ditubuhnya. Ia baru teringat, bahkan sejak kemarin ia sama sekali tidak mengecek ponselnya. Meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjang dikamarnya. Ada 10 pesan dan 15 panggilan tidak terjawab serta sebuah pesan suara. Ia membuka satu persatu mulai dari pesan yang semuanya berasal dari satu pengirim yaitu Park Hyobyung yang sebagian besar isinya menanyakan kapan ia pulang. Lalu panggilan tidak terjawab, 10 panggilan dari Hyobyung dan yang terbaru adalah pagi tadi ketika pukul 09:00. Ia benar-benar merasa semakin bersalah pada kekasihnya itu. Lalu sebuah pesan suara. Masih sama, pengirimnya Park Hyobyung. Ia membuka pesan suara itu. Hingga terdengar suara seorang perempuan yang sangat ia rindukan, yang mbuat hati dan pikirannya kalut hanya dengan memikirkannya saja.
‘Ini aku. Kau sangat sibuk ya ? Sampai menghubungimu saja sangat susah. Serasa seperti aku ini sedang di bulan dan kau dibumi. Kenapa tidak datang ? Kau tahu betapa sedihnya aku ? Setelah siang kemarin kau bahkan dengan jelas mengatakan padaku kalau kau bisa datang lalu tiba-tiba kau menghilang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Aku sudah membuatkan banyak makanan dan kue tart untukmu namun sepertinya semuanya akan berakhir ditempat sampah. Ini benar-benar tidak adil.’
Jiyoung menangkap nada sedih dalam suara kekasihnya ini. Namun wanita itu menutupi nya dengan sedikit nada bergurau dalam apa yang ia ucapkan. Selama beberapa saat hanya hening. Tidak terdengar suara kekasihnya itu lagi
‘Apa sudah selesai ? Tapi kenapa pesan suaranya tidak berakhir ? Apa dia lupa mematikannya selama beberapa saat tadi ?’ 
Kemudian ia mendengar suara kekasihnya kembali. Tidak seperti suaranya tadi, kali ini ia benar-benar menangkap nada sedih dari caranya berbicara.
‘Kenapa seperti ini ?’Jiyoung mendengar isakan tertahan dari kekasihnya. Mendengar ini, hatinya terasa nyeri. Lagi-lagi ia menyakiti hati kekasihnya. Membuatnya menangis lagi
‘Hahahaha, aku bercanda. Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk uri Young-ie. Semoga yang kau inginkan dapat terkabul. Selalu diberikan kesehatan oleh Tuhan. Ah ya dan satu lagi. Happy 3rd aniversarry dear. Terimakasih karena telah menemaniku selama 3 tahun ini. Aku bahagia bisa memiliki mu. I Love You. Jangan lupa telefon aku’ Nada bicaranya terdengar seperti sedang menghibur dirinya sendiri. Ia tersenyum miris. Ia merasa mendapat tamparan keras dipipinya. Sebagai laki-laki, ia merasa sama sekali belum bisa membuat kekasihnya ini bahagia selama 3 tahun mereka bersama. Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, ia segera mengambil kunci mobilnya dan berangkat menuju aprtement kekasihnya. Ia berjanji akan menebus semuanya. Berjanji untuk tidak membuat kekasihnya ini menangis lagi. 
                                                                                     —
Jiyoung memarkir mobil mewah nya disebuah cafe milik temannya yang berada di sekitar apartement Hyobyung. Ia hanya menjaga agar tidak ada kecurigaan. Ia tidak berani mengambil resiko jika memarkir mobilnya di basement apartement Hyobyung. Hanya perlu berjalan sekitar 200 meter. Ia harus lebih berhati-hati, tidak boleh sampai ada yang tahu penyamarannya jika ia ingin sampai apartement kekasihnya dengan selamat. Hanya memerlukan waktu 5 menit baginya untuk sampai apartement. Segera menuju lift dan menekan tombol menuju lantai 15 tempat apartement Hyobyung berada. Bunga sudah ada ditangannya dan sebuah kotak kecil berisi kado istimewa sudah ia sembunyikan dibalik jaket kulitnya. Beruntung hanya ia sendirian didalam lift hingga lift sampai dilantai 15. Setelah itu ia kembali melangkah menuju tempat Hyobyung. Tanpa repot mengetuk pintu ataupun memencet bel, ia masuk apartement itu dengan mudah. Ia mengetahui sandi yang digunakan Hyobyung untuk pintu apartement ini sehingga ia bisa leluasa keluar masuk rumahnya. 
.
Jiyoung melangkahkan kakinya memasuki apartement Hyobyung. Sepi. Kemana gadis itu ? Apa ia sedang berada di kantor ? Bodohnya ia tadi tidak menelfon kekasihnya itu dan bertanya apakah ia ada dirumah atau tidak. Ia terduduk lesu di sofa yang berada diruang tengah. Hingga ia tiba-tiba suara Hyobyung -yang ternyata berada dirumah mengejutkannya
“Jiyoung ?” Hyobyung membulatkan matanya tidak percaya. Sejak kapan ia disini ? Tanyanya dalam hati. Ia baru saja mencuci piring yang ia gunakan untuk membuat banyak makanan itu dan membersihkan rumahnya. Lalu ketika ia kembali ke ruang tamu, ia menemukan Jiyoung disini
“Sedang apa ?” Hyobyung kembali bertanya bingung, perasaanya campur aduk. Antara senang, sedih, marah dan kecewa. Semuanya menyatu dalam hatinya, namun rasa marah dan kecewa lebih mendominasi perasaannya. Tatapannya masih terpaku pada Jiyoung, hingga ia melihat sebuah buket bunga yang Jiyoung pegang. Ia mengikuti arah pandang Hyobyung. Setelah sadar apa yang kekasihnya itu lihat, ia segera beranjak dari tempatnya duduk. Mendekati kekasihnya yang masih diam ditempatnya berdiri dan hanya menatap nya yang semakin mendekat kearahnya
“Untukmu” Jiyoung merangkul pinggang Hyobyung, mengecup dahi gadis ini singkat lalu memberikan buket bunga yang sudah ia siapkan sambil tersenyum manis. Sementara Hyobyung tidak menjawab. Ia hanya menatap dingin Jiyoung. 
“Hyo, kumohon” Jiyoung menatap Hyobyung kecewa
“Bagaimana bisa ? Bagaimana kau masih bisa tersenyum disaat aku sudah benar-benar merasa muak denganmu !” Hyobyung menatap mata Jiyoung dengan tajam. Entah apa yang membuat amarah nya tiba-tiba meledak seperti ini padahal tadi ia sudah bisa memahami kesibukan Jiyoung. Hanya saja, melihat senyum ceria tanpa ada rasa bersalah dari wajah kekasihnya ini sementara ia menangis semalaman itu benar-benar membuatnya tidak habis pikir dengan pria ini.
“Hyo dengarkan aku dulu !” Jiyoung mencoba menenangkan Hyobyung. Ia tahu bagaimana perasaan Hyobyung, dan ia memaklumi dan menerima jika harus dimaki-maki oleh kekasihnya karena ini memang salahnya.
“Apa yang harus kudengarkan lagi darimu ? Kesabaranku sudah habis karenamu. Aku benar-benar muak denganmu !” Hyobyung menampik tangan Jiyoung yang ingin menggenggam tangannya
“Hyo, aku benar-benar minta maaf. Sungguh, aku benar-benar sibuk. Maafkan aku karena tidak menghubungi mu. Aku melakukan itu semua agar aku dapat berkonsentrasi dengan baik, agar tugas ku segera terselesaikan”
“Jadi maksudmu aku mengganggumu ? Walau hanya sekedar menelfonku itu akan menganggumu dan merusak konsentrasimu ? Begitu maksudmu ?” Hyobyung membelalak tidak percaya
“Tidak, bukan begitu Hyo. Kumohon dengarkan aku dulu” Jiyoung menatap hyobyung dengan tidak sabar
“Selalu saja seperti ini. Sibuk, sibuk selalu saja sibuk. Kapan aku menjadi prioritas pertama mu ? Aku benar-benar lelah denganmu. Selama ini aku hanya diam dan mencoba untuk memahami mu, namun sepertinya aku sudah berada dibatas kesabaranku. Dulu, kau berjanji akan membuat semua ini menjadi mudah tapi selama 3 tahun kita bersama aku merasa semakin hari semakin sulit berhubungan denganmu. Aku tahu ini memang resiko yang harus ku tanggung tapi sepertinya ini sudah berada diluar batasanku. Kenapa selalu aku yang berkorban ? Kenapa aku yang selalu merasa kecewa ? Aku tahu ini baru permulaan. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaiman jika nanti kau mempublikasikan hubungan kita ? Kenapa aku terlalu percaya diri seperti ini ? Bahkan sepertinya pemikiran itu sama sekali tidak pernah terlintas dipikiranmu ?” Hyobyung tertawa sinis sementara air matanya sudah membanjiri pipinya.
Sementara Jiyoung hanya mengacak rambutnya kasar. Frustasi. Ini diluar kendali nya. Ia tidak menyangka Hyobyung akan semarah ini padanya. Mencoba meredam emosinya. Ia tidak ingin terpancing oleh amarah Hyobyung yang meledak-ledak. Ia tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini jika ia juga terbawa emosi. Lebih baik ia menenangkan Hyobyung dulu. Untuk sementara ini ia akan diam hingga Hyobyung sedikit tenang dan menyelesaikam masalah ini dengan kepala dingin. Ya itu lebih baik ! Batinnya mantap. Kembali mendekati Hyobyung yang menangis terisak. Gadis itu berada sedikit lebih jauh darinya . Dengan sekali rengkuhan, Hyobyung sudah berada dalam pelukannya. Gadis itu tidak menolak. Hyobyung semakin terisak dalam pelukan Jiyoung.
“Wae ? Wae ? Wae ?” Hyobyung berkata lirih sambil memukul dada Jiyoung pelan berulang kali. Ia sudah tidak memiliki tenaga lagi, bahkan untuk berteriak atau setidaknya menampar pipi pria ini pun rasanya ia sudah tidak kuat lagi. Tubuh, pikiran, dan hatinya benar-benar lelah 
‘Kenapa mencintai pria ini begitu sulit ?’ 
                                                                                        —
Hyobyung terbangun dari tidurnya dan terkejut begitu mendapati dirinya berada dikamarnya. Seorang diri. Tidak ada Jiyoung. Ia bangkit dan duduk ditepian kasurnya. Ia cukup terkejut melihat beberapa makanan di nakas samping ranjangnya. Segelas susu dan 2 buah roti bakar berisi selai coklat kesukaannya. Namun yang menarik perhatiannya adalah sebuah kotak kecil berwarna silver yang indah dengan pita merah membungkusnya. Merasa penasaran dengan apa isi kotak tersebut, Hyobyung segera meraihnya. Terdapat sepucuk surat dibawahnya. Tentu saja ini dari Jiyoung
‘Happy 3rd Aniversarry Hyo. Terimakasih karena telah menemaniku dan memahamiku. Maafkan aku karena aku belum bisa membuat hubungan kita menjadi mudah. Maafkan aku karena selalu membuatmu menangis. Kumohon bertahanlah disisi ku, aku membutuhkanmu. Maaf karena tidak bisa menemanimu, aku harus segera kembali karena yang lain sedang menungguku. Saranghaeyo’
Setelah membaca surat dari Jiyoung , Hyobyung segera membuka kotak kecil itu. Ia terkejut melihat sebuah kalung yang indah. Ia mengambil kalung itu keluar dari kotaknya. Memperhatikan betapa cantiknya kalung itu. Mahal. Sudah pasti. Ia menatap sendu kalung itu. Ia tersenyum miris. Kado yang ia siapkan bahkan sangat jauh dari apa yang Jiyoung berikan padanya. Bahkan mungkin Jiyoung bisa membeli dengan merek yang jauh lebih bagus. Ia merasa benar-benar kecil disamping pria itu. Seperti sebuah kerikil yang bersebelahan dengan mutiara. Ia tidak pantas mendapat ini. Ini terlalu indah. Sudah cukup apa yang selama ini Jiyoung berikan padanya. Namun untuk yang satu ini, ia benar-benar merasa tidak pantas mendapatkannya. Mengubur keinginannya untuk memakai kalung ini dalam-dalam. Ia memasukkan kembali kalung itu pada tempatnya. Memilih untuk membersihkan badannya. Ia menoleh ke jendela tepat sebelum kakinya memasuki kamar mandi. Langit Seoul telah berubah petang. Hari sudah malam. Ia tidak menyangka telah melalui satu hari ini dengan sangat berat yang seharusnya ia lalui dengan suka cita bersama kekasihnya.‘Hhhhh’ ia menghela nafas berat sebelum akhirnya memasuki kamar mandi. 
                                                                                        —
Hyobyung memulai paginya dengan ceria. Mencoba melupakan apa yang terjadi kemarin. Ia memutuskan untuk tidak berkerja dulu. Alasannya masih sama. Ia hanya ingin libur sebentar untuk me-refresh otaknya meskipun malah timbul maaalah baru antara dia dan Jiyoung. Mengingat Jiyoung, lekaki itu hanya mengirim sebuah sms semalam sebelum ia tidur. Sementara pagi ini pria itu belum mengabarinya sama sekali. Ia menyalakan tv nya setelah membersihkan rumah seharian. Memindah chanek berulang kali karena acara yabg ditayangkan sangat membosankan hingga ia terpaku pada sebuah tayangan. Nafasnya tercekat ditenggorokan. 
“G-Dragon Kencan. Agency Tidak Melarang” 
Belum habis rasa keterkejutan Hyobyung, tiba-tiba muncul beberapa foto yang diambil secara diam-diam. Hyobyung mulai was-was. Takut jika ada dirinya atau lingkungan tempat ia tinggal terjepret kamera. Namun, Ia sama sekali tidak melihat ada fotonya ataupun foto Jiyoung yang memasuki bangunan apartement nya dalam foto-foto yang ditampilkan oleh stasiun televisi tersebut. Yang ada malah beberapa foto Jiyoung bersama seorang wanita yang hanya terlihat punggungnya saja. Wanita yang bahkan terlihat cantik dan elegan walau hanya terlihat bagian belakangnya saja. Benar-benar serasi bersama Jiyoung. Sang pembawa acara itu menambahkan kalau foto itu diambil tadi malam. Dan disebuah rumah makan yang tidak terlalu jauh dari gedung agency YG ENTERTAIMENT. Itu berarti setelah Jiyoung pulang dari rumahnya, pria itu langsung menemui wanita itu. Terlihat dari bajunya yang masih sama dengan yang ia kenakan saat bertemu dengannya. Tiba-tiba amarah Hyobyung kembali tersulut. Ia tidak percaya selama ini ia dikhianati oleh kekasihnya. Kini ia menemukan alasan untuk mengakhiri hubungannya dengan pria itu. Hari ini, ia kembali meneteskan air matanya .
                                                                                    —
Jiyoung buru-buru menuju rumah Hyobyung ketika ia melihat skandal baru tentang dirinya yang muncul ditelevisi dan sedang menjadi perbincangan hangat para netizen. Bofohnya, ia baru tahu beberapa jam setelah berita yang sana sekali tidak benar ini muncul. Feeling nya mengatakan kalau Hyobyung sudah mengetahui berita ini dan ia yakin wanita itu pasti salah paham. Sedikit berlari ketika ia sudah sampai dilantai 15. Membuka pintu apartement Hyobyung dengan tidak sabar dan segera masuk kedalamnya. Sepi. Tidak ada seorangpun disini. Apa kekasihnya ini sudah berada dikantor ? Jika memang benar, itu lebih baik, karena ia masih bisa mencegah kesalah pahaman diantara mereka. Setidaknya ia bisa memberitahu Hyobyung agar tidak percaya dengan berita itu. Namun ia menangkap keganjilan diruangan ini. Hingga matanya menangkap secarik kertas dengan 2 buah kotak berbeda warna dan ukuran berada di atas meja. Mengambil nya hati-hati. Feelingnya mengatakan kalau ini bukanlah hal yang bagus. Perlahan ia mulai membaca baris demi baris surat itu yabg semakin lama membuat nafasnya semakin tercekat
‘ Maafkan aku karena tidak memberitahumu kalau aku pergi. Kini, aku menemukan alasan untuk mengakhiri semuanya. Aku mencintaimu, namun sepertinya aku masih belum cukup mampu untuk selalu berada disisimu. Kau tidak perlu mencari dan mengkhawatirkanku karena aku akan hidup denga baik. Kau tidak perlu menyesal dan sedih. Karena jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, takdir akan membawa kita untuk kembali menyatu. Aku mencintaimu, tapi sepertinya aku masih bekum mampu untuk bertahan kebih lama disisimu. Terima kasih karena telah mengisi hari-hariku nenjadi lebih berwarna. Kau tidak perlu kgawatir dan mencariku. Karena aku akan hidup dengan baik. Aku pergi dulu, jaga dirimu Young-ie’
Jiyoung tidak menyangka ia akan berpisah dengan gadis ini. Meremas surat itu hingga mtidak berbentuk danemgacak rambutnya frustasi. Tanpa sadar air mata telah jatuh membasahi pipinya. Sementara Hyobyung, kini sudah berada disebuah halte bus. Ia ingin menuju suatu tempat dimana ia akan memulai hidupnya kembali. Menata hatinya kembali.  Ia berjanji suatu saat akan kembali ke Seoul. Tempat yang menyimpan sejuta kenangannya bersama seorang bintang besar bernama G-Dragon.

Geunyeoga tteonagayo
Naneun amugeosdo hal su eopseoyo
Sarangi tteonagayo
Naneun babocheoreom meonghani seoissneyo
Meoreojineun geu dwismoseupmaneul baraboda
Jageun jeomi doeeo sarajinda
Sigani jinamyeon tto mudyeojilkka
Yet saenggagi na
Ni saenggagi na
IF YOU
IF YOU
Ajik neomu neujji anhassdamyeon
Uri dasi doragal suneun eopseulkka
IF YOU
IF YOU
Neodo nawa gati himdeuldamyeon
Uri jogeum swipge gal suneun eopseulkka
Isseul ttae jalhal geol geuraesseo

End ~
Happy Birthday Jiyounggg 😍 . . Huh akhirnya selesai juga. Kalau IF YOU nggak ada MV nya kali ini FF IF YOU nggak ada covernya :v *Author nggak sempet bikin -,- .Rencaannya pingin aku biat squel nya cuman mau aku post diblog pribadi sementara blog pribadi baru aja ditutup *nah lo . Jadi tunggu blognya jadi aku baru mau bikin kelanjutan ceritanya. Yang mau lebih kenal sama author bisa follow IG : @ckyhy_elf dan line : ditaelf. Kamsahabnida *bow

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s